Ekonomi Jatim Menguat, Emil Dardak Tekankan Peran Manufaktur dan Investasi Jangka Panjang

Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak.

SURABAYA, INVESTORJATIM — Jawa Timur menyumbang hampir seper tujuh ekonomi Indonesia, namun kebijakan lahan yang tumpang tindih masih menjadi rem utama daya dobrak ekonomi provinsi berpenduduk 42 juta jiwa itu. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengungkap sederet data yang menunjukkan betapa besar kekuatan Jatim bagi perekonomian nasional, sekaligus betapa serius hambatan yang kini mengganjal percepatan investasi dan industrialisasi di wilayah Jatim.

Emil menyoroti skala demografis Jawa Timur yang mencapai 42 juta jiwa lebih besar dari populasi Malaysia yang hanya sekitar 30 juta. Dengan ukuran sebesar itu, ujar Emil, Jawa Timur jelas memiliki bobot ekonomi dan sosial yang setara dengan sebuah negara besar di kawasan.

“Jawa Timur adalah gerbang utama perekonomian Indonesia Timur. Sekitar 80 persen logistik wilayah timur terkoneksi melalui Jatim, terutama lewat Pelabuhan Tanjung Perak,” tegas Emil.

Dari sisi kontribusi ekonomi nasional, Emil mengungkapkan bahwa Jawa Timur menyumbang 14,44 persen PDB Indonesia. Angka ini setara hampir satu per tujuh dari total ekonomi RI.

Baca Juga:  Menkeu Yakin Ekonomi Nasional Bisa Tumbuh 6 Persen pada 2026

“Di atas Jatim, memang masih Jakarta. Itu karena hampir semua corporate network dan fungsi akuntansi perusahaan masih terpusat di ibu kota. Kalau perusahaan besar yang beroperasi di Jawa Timur menempatkan fungsi korporasinya di sini, angkanya akan jauh lebih besar,” jelasnya.

Emil kemudian mengurai struktur ekonomi Jatim yang ditopang oleh tiga sektor utama, yaitu Industri manufaktur: 31,16%, Perdagangan: 18,31% dan Pertanian: 11,98%.

Namun, ia menyoroti ketimpangan fundamental: sektor pertanian yang menyerap 32 persen tenaga kerja, tetapi kontribusinya hanya 11 persen. “Ini artinya kita membutuhkan investasi besar-besaran di sektor sekunder agar pertumbuhan lebih berkualitas,” katanya.

Salah satu masalah mendesak, lanjut Emil, adalah persoalan regulasi lahan yang menghambat pembangunan perumahan rakyat. Ia mencontohkan banyak pengembang yang sudah melakukan land banking, tetapi kemudian lahannya ditetapkan sebagai Lahan Sawah Dilindungi (LSD) setelah diverifikasi menggunakan citra satelit.

“Pengembang sudah beli lahan karena di peta tidak hijau, tapi ketika diuji citra satelit, tiba-tiba ditetapkan hijau. Mereka tidak bisa bangun apa-apa. Ini dilema besar, kita menjaga kedaulatan pangan, tapi Jatim juga butuh diversifikasi ekonomi,” papar Emil.

Baca Juga:  Ekonomi Makin Tak Menentu, Saatnya Pemerintah Kembalikan Kepercayaan Pasar

Di sisi lain, performa sektor industri pengolahan justru terus menguat dengan pertumbuhan 6,21 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Jatim sebesar 5,22 persen. “Ini menegaskan bahwa manufaktur adalah engine of growth Jawa Timur,” ucapnya.

Emil juga menyoroti lonjakan investasi yang sangat signifikan. Dalam periode 2019–2024, realisasi investasi Jatim meningkat hampir empat kali lipat. Ia menegaskan bahwa pencapaian tersebut merupakan akumulasi kerja seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.

Wagub Jatim juga menegaskan bahwa meski kontribusi sektor pertanian hanya 11,9 persen, Jawa Timur tetap menjadi produsen padi terbesar nomor satu di Indonesia. “Ini menunjukkan kekuatan dasar Jatim sebagai lumbung pangan sekaligus pusat pertumbuhan industri dan perdagangan nasional,” pungkasnya. (ONNY)

Komentar