Founder & Group CEO VIDA, Niki Luhur
JAKARTA, INVESTOR JATIM – VIDA, penyedia solusi identitas digital dan pencegahan fraud berbasis kecerdasan buatan (AI), menegaskan komitmennya memperkuat kepercayaan digital (digital trust) di Indonesia melalui teknologi autentikasi inovatif berbasis AI. Langkah ini disampaikan dalam ajang Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) dan Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2025 yang digelar oleh Bank Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, serta Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) di Jakarta, akhir pekan lalu.
Founder & Group CEO VIDA, Niki Luhur, menjelaskan bahwa ancaman digital saat ini tak hanya menyangkut aspek teknologi, tetapi juga manipulasi terhadap pengguna, seperti praktik phishing atau account takeover yang berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi konsumen.
“Teknologi deepfake kini sudah mencapai tahap di mana sulit membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Karena itu, lembaga seperti VIDA sebagai Certificate Authority (CA) berperan penting menjaga integritas identitas digital agar data dan transaksi tetap otentik,” ujar Niki dalam keterangan resmi, Jumat (7/11/2025)
Berdasarkan VIDA Fraud Intelligence Report 2025, kasus deepfake fraud di kawasan Asia Pasifik melonjak hingga 1.550%, sementara 97% bisnis di Indonesia menjadi sasaran social engineering. Pada periode 2022–2024, sektor perbankan menanggung kerugian lebih dari Rp2,5 triliun akibat penipuan digital—kebanyakan dipicu oleh lemahnya sistem autentikasi konvensional seperti SMS OTP dan kata sandi.
Menjawab tantangan itu, VIDA menghadirkan FaceToken dan PhoneToken, solusi autentikasi biometrik berbasis machine learning dan enkripsi tingkat tinggi. Teknologi ini memungkinkan verifikasi identitas tanpa kata sandi (passwordless) melalui deteksi wajah (liveness detection) dan perangkat terdaftar pengguna, sehingga transaksi digital dapat berlangsung lebih cepat, aman, dan nyaman. Implementasinya di sektor keuangan disebut mampu menekan transaksi tidak sah hingga 90%.
VIDA juga mengembangkan kerangka keamanan berbasis AI (AI-native security framework) yang menggabungkan kemampuan computer vision, fraud detection engine, serta analisis perangkat untuk mengenali pola serangan kompleks seperti injection attack dan virtual camera spoofing.
“Kami tidak hanya menganalisis foto. Kami juga memahami bagaimana serangan terjadi dari perangkat, aplikasi, hingga jaringan. Karena di lapangan, penipuan sering memanfaatkan reverse engineering tools dan virtual camera injection untuk menipu sistem biometrik,” jelas Niki.
Ia menambahkan, FEKDI–IFSE menjadi momentum kolaborasi lintas sektor dalam melindungi ekosistem ekonomi digital nasional.
“Proses autentikasi seharusnya mudah, namun sekuat enkripsi. Melalui FaceToken dan PhoneToken, VIDA ingin menghadirkan keamanan digital yang sederhana bagi pengguna, tapi tetap mustahil ditembus penipu,” pungkasnya. (Onny Asmara)
INVESTORJATIM.COM – Persaingan dunia kerja yang semakin ketat mendorong sekolah menengah kejuruan (SMK) memperkuat kualitas…
INVESTORJATIM.COM – Upaya memperkuat efisiensi logistik nasional terus dilakukan pelaku industri kepelabuhanan. Di tengah meningkatnya…
INVESTORJATIM.COM – Transformasi digital semakin menjadi faktor penentu dalam industri manajemen properti. Di tengah meningkatnya…
INVESTORJATIM.COM – Pemerintah mulai mempercepat penguatan industri galangan kapal nasional di tengah meningkatnya kebutuhan konektivitas…
INVESTORJATIM.COM – Penyedia teknologi perhotelan asal Italia, Zucchetti, memperkuat kemitraan strategis dengan SiteMinder guna memperluas…
INVESTORJATIM.COM – Tren perjalanan spiritual berbasis keluarga terus berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata…