Categories: Indeks

Prodia Ungkap Revolusi Baru Diagnosis Penyakit Usus, Dokter Mulai Tinggalkan Cara Lama

dr. Dewa Ayu Liona Dewi, M.Kes., Sp.GK (dua dari kiri) dan Prof. dr. Muhammad Miftahussurur, M.Kes., Sp.PD-KGEH., PhD., FINASIM (tiga dari kiri) saat memberikan keterangan pers kepada jurnalis Surabaya usai seminar.

INVESTORJATIM.COM – Gangguan saluran cerna masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang paling sering ditemui di layanan medis. Mulai dari diare, nyeri perut, perut kembung hingga perubahan pola buang air besar kerap dianggap keluhan umum, padahal kondisi tersebut dapat dipicu penyebab yang berbeda-beda dan membutuhkan penanganan spesifik.

Kompleksitas diagnosis inilah yang mendorong PT Prodia Widyahusada Tbk memperkuat edukasi medis berbasis teknologi diagnostik modern melalui Seminar Nasional Dokter ke-20 bertajuk Integrating Innovative Gut Health Testing Into Daily Practice yang digelar di hotel Excotel Surabaya, Minggu (24/5/2026).

Area Head Central and East Java Batara Prodia Antonius Erbano mengatakan perkembangan pemeriksaan kesehatan saluran cerna berbasis data kini menjadi kebutuhan penting dalam praktik klinis modern. Menurutnya, dokter membutuhkan pendekatan diagnosis yang lebih presisi untuk memahami kondisi pasien secara menyeluruh.

“Kami ingin menghadirkan ruang diskusi ilmiah yang relevan dengan tantangan praktik klinis saat ini, khususnya terkait perkembangan pemeriksaan kesehatan saluran cerna yang semakin inovatif dan berbasis data,” ujar Antonius.

Dia menambahkan, pendekatan diagnostik modern diharapkan mampu membantu dokter mengambil keputusan klinis yang lebih tepat, personal, dan sesuai kebutuhan pasien, sekaligus mengurangi metode pengobatan berbasis trial and error.

Sejalan dengan transformasi layanan kesehatan digital, Prodia juga memperkuat dukungan terhadap komunitas medis melalui aplikasi Prodia for Doctor. Platform tersebut dirancang untuk memudahkan akses layanan laboratorium, informasi pemeriksaan, agenda ilmiah, hingga program loyalitas bagi dokter.

“Kami melihat transformasi layanan kesehatan tidak hanya berkembang melalui inovasi pemeriksaan diagnostik, tetapi juga lewat ekosistem digital yang memperkuat konektivitas antara laboratorium dan tenaga medis,” tambah Antonius.

Peserta seminar

Dalam seminar yang dihadiri 116 peserta tersebut, sejumlah pakar kesehatan membahas keterkaitan kesehatan usus dengan sistem imun, metabolisme tubuh, hingga respons inflamasi. Narasumber yang hadir antara lain Prof. dr. Muhammad Miftahussurur, M.Kes., Sp.PD-KGEH., PhD., FINASIM, dr. Dewa Ayu Liona Dewi, M.Kes., Sp.GK, serta Amadea Risanggita Kinanthi S.Si., M.Farm.

Prof. dr. Muhammad Miftahussurur menilai Prodia telah menjadi salah satu mitra penting dalam pengembangan pemeriksaan kesehatan berbasis teknologi modern di Indonesia. Menurutnya, berbagai jenis pemeriksaan yang selama ini lazim dilakukan di luar negeri kini mulai dapat diakses di Indonesia melalui Prodia.

Dia menyoroti perkembangan ilmu kesehatan saluran cerna sejak ditemukannya bakteri Helicobacter pylori pada 1982 yang mengubah cara pandang dunia medis terhadap penyakit lambung. Penemuan tersebut membuktikan bahwa gangguan lambung tidak semata dipicu pola makan dan gaya hidup, melainkan juga faktor infeksi bakteri.

“Sekarang kita memahami bahwa saluran cerna tidak hanya berkaitan dengan satu bakteri, tetapi ada ekosistem mikrobiota yang sangat kompleks. Ke depan, komposisi mikrobiota usus bahkan dapat membantu memprediksi berbagai penyakit berdasarkan pola metabolisme dan kebiasaan sehari-hari,” ujarnya.

Menurutnya, pengembangan pemeriksaan microbiome berpotensi menjadi fondasi besar bagi pembentukan bank data mikrobiota masyarakat Indonesia. Data tersebut dinilai penting untuk mendukung pengembangan riset kesehatan nasional dan deteksi dini berbagai penyakit di masa mendatang.

“Saya dulu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan data mikrobiota lambung di Indonesia. Dengan sistem dan jaringan Prodia saat ini, pengumpulan data bisa jauh lebih cepat dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu kesehatan di Indonesia,” katanya.

Dia menambahkan, pemeriksaan saluran cerna di masa depan tidak lagi sekadar berfokus mengatasi gejala seperti nyeri perut, melainkan mampu memberikan gambaran lebih detail mengenai akar masalah kesehatan pasien.

Salah satu teknologi yang disorot dalam seminar tersebut ialah pemeriksaan Short Chain Fatty Acid (SCFA) untuk membaca keseimbangan mikrobiota usus dan kondisi inflamasi saluran cerna. Pemeriksaan tersebut dinilai mampu memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai kondisi pasien sehingga terapi dapat dilakukan lebih terarah.

Selain itu, pendekatan analisis microbiome juga disebut semakin penting karena ketidakseimbangan bakteri baik di usus berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari metabolisme, sistem imun, kesehatan mental hingga gangguan pencernaan.

dr. Dewa Ayu Liona Dewi mengatakan disbiosis atau ketidakseimbangan mikrobiota usus juga berkaitan dengan meningkatnya kasus obesitas yang kini banyak ditemui di masyarakat. Menurutnya, obesitas merupakan penyakit multifaktorial dan salah satu faktor yang memengaruhinya adalah kondisi kesehatan usus.

“Banyak pasien obesitas mengalami gangguan pencernaan seperti konstipasi dan pola makan rendah serat karena kurang mengonsumsi sayur dan buah. Padahal serat merupakan sumber makanan utama bagi bakteri baik di usus,” ujarnya.

Dia menambahkan, kesehatan usus memiliki keterkaitan erat dengan berbagai organ tubuh melalui mekanisme metabolik tertentu, mulai dari lambung, hati, ginjal hingga sistem kardiovaskular.

Karena itu, edukasi mengenai pentingnya konsumsi serat dan pola makan sehat dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan mikrobiota usus dan mencegah berbagai gangguan kesehatan.

“Microbiota usus memang bukan penyebab tunggal penyakit, tetapi dapat menjadi faktor yang memperberat kondisi penyakit yang sudah ada,” katanya.

Prodia mencatat Seminar Nasional Dokter telah digelar secara konsisten selama dua dekade sebagai bagian dari komitmen perusahaan mendukung edukasi berkelanjutan bagi tenaga medis. Kegiatan di Surabaya menjadi bagian dari rangkaian roadshow ilmiah Prodia di sejumlah kota besar sepanjang 2026 guna mendorong peningkatan layanan kesehatan berbasis inovasi diagnostik modern. (Onny)

REDAKSI

Recent Posts

FKH UNAIR Soroti Ancaman Newcastle Disease terhadap Ketahanan Pangan dalam SAGAVET 2026

INVESTORJATIM.COM — Universitas Airlangga melalui Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) menggelar SAGAVET 2026 bertema Dampak Penyakit…

13 jam ago

Duta ITS 2024 Raih Juara I Duta Bahasa NTB 2026 lewat Inovasi Literasi untuk Terapi Skizofrenia

INVESTORJATIM.COM — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Duta ITS 2024, Tangguh…

14 jam ago

ICX 2026 Dibuka di Surabaya, Pameran Kopi hingga Kolaborasi Otomotif Siap Dongkrak Ekonomi Kreatif

INVESTORJATIM.COM – Kota Surabaya dipilih menjadi pembuka rangkaian nasional Indonesia Coffee Expo (ICX) 2026. Pameran…

15 jam ago

Dorong Sport Tourism, Kemenpar Luncurkan Geopark Run Series 2026/2027: Ijen Banyuwangi Jadi Lokasi Pembuka

INVESTORJATIM.COM - Kementerian Pariwisata Republik Indonesia terus berkomitmen memperluas promosi destinasi geopark tanah air melalui…

17 jam ago

TPS Raih Gold IRCA 2026, Bukti Budaya Kepatuhan Jadi Senjata Daya Saing

INVESTORJATIM.COM – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) kembali menegaskan komitmennya terhadap tata kelola perusahaan dan…

1 hari ago

Arumi Bachsin Dorong Generasi Muda Siapkan Diri Jadi Pemimpin Masa Depan

INVESTORJATIM.COM — Ketua TP PKK Jawa Timur Arumi Bachsin menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam…

1 hari ago