
SURABAYA, INVESTORJATIM — Di tengah dinamika ekonomi nasional, optimisme terus menguat dari kalangan dunia usaha Jawa Timur. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, melihat tahun 2026 sebagai periode yang tetap solid bagi perekonomian daerah. Ia memperkirakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim dapat tumbuh stabil di kisaran 5,3 persen.
Menurut Adik, keyakinan tersebut bukan tanpa dasar. “Fundamental ekonomi tahun depan diperkirakan cukup kokoh. Konsumsi domestik masih menjadi motor utama, sementara investasi dan ekspor menunjukkan tren perbaikan,” ujarnya.
Momentum konsumsi masyarakat yang terjaga, ditambah peningkatan realisasi investasi, dinilai menjadi bahan bakar utama bagi ekonomi Jatim. Sementara itu, kinerja ekspor yang mulai membaik juga memperkuat prospek pertumbuhan tahun depan.
Inflasi Tetap Terkendali, Namun Waspada Pola Musiman
Kestabilan harga diproyeksikan tetap terjaga. Adik memprediksi inflasi Jatim berada pada rentang 2–3 persen, sejalan dengan berbagai upaya stabilisasi untuk mempertahankan daya beli masyarakat. Kendati demikian, ia mengingatkan potensi tekanan harga pada komoditas pangan menjelang hari raya.
Telur, minyak goreng, serta tarif angkutan umum disebut sebagai komoditas yang kerap mengalami lonjakan saat Natal dan Tahun Baru.
Investasi Berpeluang Melejit di 2026
Tahun depan juga dipandang sebagai momentum baru bagi arus modal masuk. Adik meyakini realisasi investasi bisa melampaui pencapaian 2025, didorong oleh kelanjutan berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan semakin baiknya proses perizinan.
Pembangunan jalan tol, perluasan kawasan industri, hingga proyek hilirisasi smelter menjadi katalis yang memperkuat minat investor.
“Dengan kemudahan perizinan dan insentif yang tersedia, tren investasi diperkirakan tumbuh moderat namun positif, membantu perluasan kapasitas produksi sekaligus membuka lapangan kerja baru,” tuturnya.
Ekspor Mulai Bangkit
Pulihnya permintaan dari negara mitra dagang utama menjadi angin segar bagi perdagangan luar negeri Jatim. Produk manufaktur—mulai makanan olahan, bahan kimia, tekstil, hingga produk logam—diprediksi tetap menjadi andalan.
Komoditas pertanian dan perikanan turut memperkuat portofolio ekspor daerah yang kian beragam.
Tantangan SDM Masih Membayangi
Meski prospek ekonomi 2026 terlihat cerah, tantangan ketenagakerjaan belum sepenuhnya selesai. Adik memperkirakan tingkat pengangguran terbuka dapat ditekan di kisaran 3,4–4 persen. Namun, mayoritas pengangguran masih berasal dari lulusan SMK dan perguruan tinggi, menandakan adanya ketidaksesuaian antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan industri.
Karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan pendidikan vokasi serta kolaborasi yang lebih erat antara institusi pendidikan dan pelaku industri. Upaya ini diharapkan dapat memastikan pertumbuhan ekonomi Jatim tidak hanya tinggi, tetapi juga inklusif dan mampu menyerap tenaga kerja secara optimal. (ONNY)








Komentar