
JAKARTA, INVESTORJATIM – Pasar perkantoran Jakarta menunjukkan pemulihan yang semakin nyata sepanjang kuartal III/2025, berdasarkan Quarterly Property Market Report Q3 2025. Tingkat okupansi tercatat meningkat sementara pasokan baru tetap minim, mendorong gedung premium dan grade A menjadi motor utama pasar. Sewa ruang kantor di segmen ini diperkirakan tumbuh sekitar 2% per tahun hingga 2028.
Kondisi tersebut membuat pengembang mengambil sikap lebih selektif. Proyek baru cenderung ditahan sambil menunggu sinyal peningkatan permintaan ruang kantor. Di sisi lain, perluasan MRT dan LRT dinilai akan meningkatkan konektivitas Jakarta dan menguatkan kebutuhan ruang kantor dalam jangka panjang.
“Daya tarik Jakarta bagi perusahaan multinasional, ditambah pengembangan infrastruktur seperti MRT dan LRT, memperkuat posisi kota sebagai pusat bisnis utama,” ungkap Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, Jumat (28/11/2025).
Ia menambahkan, untuk menjaga pertumbuhan harga sewa, pemilik gedung meningkatkan kualitas fasilitas, mulai dari amenitas yang lebih lengkap, penggunaan raised floor, hingga penerapan sertifikasi bangunan hijau. Meski membutuhkan investasi besar, langkah ini diyakini memperkuat daya saing gedung dalam fase pemulihan.
Hingga akhir 2025, tarif sewa diperkirakan tumbuh moderat dibandingkan akhir tahun lalu. Kenaikan tambahan sebesar 2–3% diproyeksikan berlanjut hingga 2026, sejalan dengan tingkat okupansi yang masih solid.
Meski efisiensi ruang tetap menjadi pertimbangan utama penyewa, tren pengurangan luas kantor mulai mereda. Sektor teknologi, energi, dan jasa keuangan mulai menunjukkan minat baru untuk mengamankan ruang dalam mendukung ekspansi bisnis.
“Dengan pasar yang semakin stabil, strategi investasi yang tepat dan penawaran yang sesuai kebutuhan penyewa diperkirakan akan membentuk lanskap perkantoran Jakarta yang lebih tangguh dan dinamis dalam beberapa tahun ke depan,” ungkapnya. (ONNY)








Komentar