
INVESTORJATIM.COM – Kualitas udara di Kota Surabaya menjadi sorotan di tengah cuaca panas yang masih melanda dalam beberapa hari terakhir.
Pakar Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Eng Arie Dipareza Syafei, ST, MEPM, mengungkapkan konsentrasi polutan jenis partikulat 2,5 mikron (PM2.5) sempat masuk kategori Tidak Sehat pada pagi hari.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya per 15 Oktober 2026, hasil pemantauan di Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien (SPKUA) Tandes menunjukkan konsentrasi PM2.5 berada pada kategori Tidak Sehat, terutama pada pukul 06.00–09.00 WIB.
“Hal ini menunjukkan adanya episode pencemaran yang perlu ditanggapi secara serius,” ujar Kepala Laboratorium Pengendalian Pencemaran Udara dan Perubahan Iklim ITS tersebut, Kamis (16/10/2026).
Menurut Arie, kualitas udara diukur melalui konsentrasi sejumlah polutan seperti PM2.5, PM10, ozon, nitrogen dioksida (NO2), sulfur dioksida (SO2), dan karbon monoksida (CO). Hasil pengukuran kemudian dikonversi menjadi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Mengacu PP Nomor 22 Tahun 2021, baku mutu PM10 ditetapkan sebesar 75 µg/m³ untuk rata-rata 24 jam dan 40 µg/m³ untuk rata-rata tahunan. Sedangkan PM2.5 sebesar 55 µg/m³ untuk 24 jam dan 15 µg/m³ untuk rata-rata tahunan.
Arie menegaskan, penurunan kualitas udara di Surabaya bukan semata karena cuaca panas. Sumber emisi berasal dari kendaraan bermotor, aktivitas pembakaran industri, pembakaran terbuka, hingga debu fugitif dari area terbuka.
Cuaca panas sendiri, kata dia, bukan sumber langsung PM2.5, melainkan faktor yang memengaruhi dinamika polutan. Intensitas matahari tinggi dapat meningkatkan pembentukan ozon, sementara pemanasan permukaan memengaruhi proses pencampuran udara.
“Wilayah dengan emisi kendaraan tinggi berpotensi mengalami peningkatan pencemaran, terutama pagi hari ketika volume kendaraan meningkat dan lapisan pencampuran udara masih dangkal, sehingga polutan mudah terakumulasi di troposfer,” jelasnya.
Dampaknya terhadap kesehatan tidak bisa diabaikan. Dalam jangka pendek, paparan polusi dapat memicu iritasi, batuk, sesak napas, hingga memperburuk asma. Paparan jangka panjang meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan paru.
Kondisi diperparah cuaca panas yang meningkatkan risiko dehidrasi. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita jantung dan paru-paru perlu lebih waspada.
Arie menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah dan masyarakat. Pemerintah perlu memperkuat sistem peringatan kualitas udara, menindak pembakaran terbuka, dan memeriksa sumber emisi tinggi. Sementara masyarakat diimbau tidak membakar sampah dan memantau kualitas udara sebelum beraktivitas luar ruangan.
“Kita perlu bersama-sama mereduksi emisi,” pungkas alumnus doktoral Hiroshima University, Jepang tersebut. (onny)








Komentar