Mahasiswa ITS Sulap Kandang Bambu Jadi Kandang Pintar, Laku Hingga Papua

Ketua tim inovator Futechi Farm Muhammad Samsuddin (kanan) saat menjelaskan proses kerja sistem Futechi Farm kepada Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD.

INVESTORJATIM.COM – Peternakan ayam petelur konvensional yang masih mengandalkan tenaga manusia kini mulai ditransformasi menjadi sistem modern. Inovasi itu datang dari mahasiswa Departemen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) lewat Futechi Farm.

Futechi Farm merupakan sistem kandang ayam petelur cerdas berbasis Internet of Things (IoT). Sistem ini mengotomatisasi pemberian pakan, pemantauan suhu kandang, pengumpulan telur, hingga deteksi ayam sakit.

Ketua Tim Futechi Farm, Muhammad Samsuddin, mengatakan peternak konvensional menghabiskan banyak waktu dan biaya operasional.

“Dengan Futechi Farm, pemberian pakan bisa otomatis dan terjadwal lewat panel kontrol atau ponsel pintar. Ada juga jadwal vaksinasi dan sterilisasi sesuai usia ayam,” ujar Samsuddin.

Keunggulan lainnya, teknologi ini dilengkapi kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi indikasi ayam sakit di tengah populasi yang padat, sehingga pencegahan bisa dilakukan lebih dini dan produksi telur tetap optimal.

Baca Juga:  Stres Kuliah Makin Menggila, Mahasiswa ITS Ciptakan “Kotak” Pengendali Emosi

Berbeda dengan kandang bambu, Futechi Farm menggunakan material weld mesh sehingga kotoran ayam langsung jatuh ke bawah dan pembersihan lebih praktis. Sistem ini juga terintegrasi dengan kolam lele untuk pengelolaan limbah yang lebih ekonomis.

Inovasi yang dibina Inkubator Bisnis ILBI ITS ini sudah mulai dipasarkan. Pada awal 2026, Futechi Farm mencatat penjualan dua unit senilai Rp 70 juta ke Bangkalan, Jawa Timur, dan satu unit senilai Rp 35 juta ke Papua. Pengembangan ini didukung pendanaan Asian Development Bank (ADB) dan program HETI ITS.

Ke depan, tim yang beranggotakan tujuh mahasiswa S1 dan S2 Teknik Mesin ITS tersebut akan mengembangkan Futechi Farm menjadi ekosistem digital lengkap, mulai dari sensor penghitung telur otomatis, distribusi pakan dari gudang ke kandang, pakan berbasis mikroalga bersama Departemen Biologi ITS, hingga platform yang menghubungkan peternak langsung dengan pembeli besar.

Rektor ITS, Bambang Pramujati, menilai inovasi seperti ini harus menjawab tantangan nyata masyarakat, tidak hanya berhenti sebagai konsep akademik. (onny)

Baca Juga:  Wamen Stella Christie Ingatkan Mahasiswa ITS: Jangan Terjebak Euforia AI, Asah Nalar Kritis

Komentar