
INVESTORJATIM.COM – Percepatan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT) bukan hanya menghadirkan peluang menuju energi bersih, tetapi juga memunculkan tantangan baru bagi keandalan sistem kelistrikan nasional. Semakin besarnya porsi pembangkit berbasis energi terbarukan justru berpotensi membuat jaringan listrik lebih rentan mengalami gangguan jika tidak diimbangi teknologi pengendalian yang memadai.
Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar ke-252 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Dr. Eng. Ir. Ardyono Priyadi ST MEng mengembangkan berbagai metode untuk meningkatkan stabilitas sistem tenaga listrik agar tetap andal di tengah masifnya penetrasi energi terbarukan.
Ardyono menjelaskan, meningkatnya penggunaan pembangkit energi terbarukan berbasis inverter menyebabkan inersia sistem tenaga listrik menurun. Akibatnya, sistem menjadi lebih sensitif terhadap gangguan sehingga membutuhkan mekanisme pemantauan dan pengendalian otomatis berbasis smart grid.
“Sistem tenaga listrik dituntut merespons gangguan secara cepat, tepat, dan tetap andal,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2026).
Salah satu fokus utama risetnya adalah pengembangan metode perhitungan critical clearing time (CCT), yaitu batas waktu maksimal yang dimiliki sistem untuk mengatasi gangguan sebelum kehilangan kestabilan. Semakin panjang nilai CCT, semakin besar peluang sistem mengisolasi gangguan sehingga jaringan listrik tetap beroperasi tanpa mengalami pemadaman yang meluas.

Untuk memperpanjang CCT, Ardyono bersama tim mengembangkan sejumlah teknologi, mulai dari pemanfaatan superkapasitor sebagai peredam energi, penerapan Superconducting Fault Current Limiter (SFCL) untuk membatasi arus gangguan, hingga integrasi Virtual Synchronous Generator (VSG) pada sistem microgrid berbasis energi terbarukan.
“Berbagai pendekatan tersebut mampu memperpanjang toleransi sistem sebelum kehilangan sinkronisasi,” katanya.
Selain itu, mantan Kepala Departemen Teknik Elektro ITS periode 2015—2019 tersebut juga mengembangkan metode koordinasi relai proteksi berbasis analisis stabilitas transien yang mengintegrasikan relai arus lebih dan reverse power relay. Metode yang diterapkan pada sistem kelistrikan industri sejak 2016 itu terbukti mampu menjaga generator tetap beroperasi ketika jaringan utama mengalami gangguan.
Menurut Ardyono, koordinasi relai tersebut dapat meningkatkan stabilitas sekaligus keandalan sistem, terutama ketika pembangkit energi terbarukan berbasis inverter semakin mendominasi bauran energi nasional.
Riset tersebut juga telah diterapkan di berbagai sektor industri, antara lain PT PLN, PT Pupuk Kaltim, PT Kaltim Daya Mandiri, dan Medco Energi. Implementasi itu menunjukkan hasil penelitian tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi telah menjadi solusi yang dimanfaatkan dunia industri.
Kepala Subdirektorat Pascasarjana ITS itu juga mendorong generasi peneliti muda untuk terus mengembangkan inovasi di bidang sistem tenaga listrik.
“Jangan mudah menyerah dalam mengembangkan algoritma atau metode untuk menjawab persoalan sistem tenaga listrik demi kemandirian bangsa,” pesannya.
Melalui pengembangan teknologi tersebut, Ardyono berharap Indonesia semakin siap menghadapi transformasi sistem kelistrikan yang modern, tangguh, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung target pembangunan berkelanjutan melalui penyediaan energi bersih, infrastruktur yang andal, dan penguatan inovasi nasional. (Onny)














Komentar