Industri Keramik Jadi Outlier Manufaktur, Utilisasi Produksi Tembus 73% di 2025

Industri keramik Indonesia mencatatkan kinerja yang mencolok dan menjadi satu-satunya sektor manufaktur yang tumbuh menguat di 2025.

JAKARTA, INVESTORJATIM – Industri keramik nasional tampil sebagai pengecualian di tengah perlambatan manufaktur global sepanjang 2025. Saat banyak sektor tertekan oleh lemahnya permintaan dan ketidakpastian ekonomi dunia, sektor ini justru mencatat akselerasi kinerja yang solid.

Data Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menunjukkan tingkat utilisasi pabrik meningkat signifikan dari 66% pada 2024 menjadi 73% pada 2025. Perbaikan utilisasi tersebut sekaligus mendorong ekspansi kapasitas produksi nasional.

Sepanjang tahun lalu, total output industri keramik bertambah sekitar 62 juta meter persegi atau naik 15% dibandingkan capaian 2024. Kinerja ini menempatkan Indonesia sebagai satu-satunya negara produsen keramik yang mampu menaikkan utilisasi sekaligus memperluas kapasitas produksi secara bersamaan di tengah tekanan global.

Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto menilai capaian tersebut mencerminkan daya tahan struktur industri dalam negeri. “Di antara negara produsen keramik dunia, hanya Indonesia yang mencatat kenaikan utilisasi dan ekspansi kapasitas secara simultan sepanjang 2025,” ujarnya seperti dikutip Senin (5/1/2026).

Edy menambahkan, solidnya kinerja industri tak lepas dari konsistensi kebijakan pemerintah dalam melindungi pasar domestik. Penerapan instrumen antidumping, safeguard, hingga kebijakan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib dinilai efektif menahan derasnya produk impor sekaligus menjaga keberlangsungan investasi.

Baca Juga:  Pasar Mobil 2025 Masih Tertekan, Gaikindo Catat Penurunan Distribusi

Menurut ASAKI, langkah strategis Kementerian Perindustrian di bawah kepemimpinan Agus Gumiwang Kartasasmita turut menjadi katalis. Perpanjangan harga gas bumi tertentu (HGBT), penguatan regulasi SNI, hingga rencana pengaturan entry point impor dinilai memberi kepastian bagi pelaku usaha untuk menambah kapasitas.

Memasuki 2026, ASAKI memproyeksikan tren positif berlanjut. Tingkat utilisasi produksi diperkirakan naik ke kisaran 80% dengan volume produksi mencapai sekitar 537 juta meter persegi, tumbuh 13% dibandingkan realisasi 2025 yang berada di level 474,5 juta meter persegi.

Sinyal pemulihan sudah terlihat sejak kuartal IV/2025. Utilisasi industri tercatat naik bertahap dari 75% pada Oktober, menjadi 76% di November, dan mencapai 78% pada Desember.

Dari sisi permintaan, industri berharap dorongan signifikan datang dari realisasi Program 3 Juta Unit Rumah pada 2026. Jika program tersebut berjalan sesuai rencana, ASAKI memperkirakan utilisasi industri keramik berpotensi terdongkrak hingga mendekati 96%.

Meski demikian, prospek 2026 masih dibayangi sejumlah risiko struktural. Salah satu yang paling krusial adalah keterbatasan pasokan gas bumi. Di Jawa Barat, pasokan gas ke industri baru terpenuhi sekitar 60%, sementara di Jawa Timur hanya 50–55%. Kekurangan pasokan memaksa pelaku industri menggunakan gas dengan skema surcharge berbiaya tinggi hingga US$15,4 per MMBTU, jauh di atas harga HGBT US$7 per MMBTU.

Baca Juga:  Didukung Penerapan SNI Wajib, Industri Keramik Semakin Berdaya Saing

Tekanan juga datang dari sisi perdagangan. Sepanjang 2025, impor keramik melonjak tajam, terutama dari India yang naik 55%, Vietnam 32%, dan Malaysia yang melesat hingga 210%.

Merespons kondisi tersebut, ASAKI berencana menggandeng Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) untuk mengajukan penyelidikan dumping terhadap produk keramik asal India pada semester I/2026. Asosiasi juga tengah mengumpulkan data dugaan praktik transhipment produk asal China melalui Malaysia.

Selain itu, isu ketersediaan bahan baku tanah liat turut menjadi perhatian, khususnya di Jawa Barat, akibat pencabutan sejumlah izin tambang. ASAKI meminta pemerintah memastikan kesinambungan pasokan bahan baku agar ekspansi industri tidak terhambat.

“Dengan peluang yang besar namun tantangan yang tidak ringan, 2026 akan menjadi tahun penentuan bagi industri keramik nasional untuk menjaga momentum pertumbuhan yang berkelanjutan,” tutup Edy. (Onny)

Komentar