Prof Dr rer pol Dedy Dwi Prastyo SSi MSi menjelaskan kebermanfaatan konsep Integrated Decision Intelligence berdasarkan SDGs.
INVESTORJATIM.COM – Di tengah meningkatnya kompleksitas tantangan ekonomi dan keuangan, kemampuan memprediksi sekaligus mengantisipasi risiko menjadi kebutuhan penting bagi pemerintah maupun dunia usaha. Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar ke-253 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Dr. rer. pol. Dedy Dwi Prastyo, S.Si., M.Si. mengembangkan konsep Integrated Decision Intelligence sebagai sistem pendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Kepala Departemen Statistika ITS itu menjelaskan bahwa model prediksi yang dikembangkan tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan proyeksi dengan tingkat akurasi tinggi, tetapi juga mampu mengidentifikasi berbagai potensi risiko yang mungkin muncul. Dengan demikian, tingkat ketidakpastian dalam pengambilan kebijakan dapat ditekan.
“Model ini bukan hanya mampu memprediksi, tetapi juga mengantisipasi berbagai risiko yang mungkin terjadi,” ujarnya.
Konsep Integrated Decision Intelligence menggabungkan pendekatan statistika finansial, machine learning, dan analisis risiko dalam satu kerangka yang terintegrasi. Hasil analisis tersebut diharapkan menjadi landasan penyusunan kebijakan yang lebih adaptif dan berbasis bukti, baik bagi pemerintah maupun pelaku industri.
Dalam implementasinya, penelitian diawali dengan membangun model prediksi menggunakan data historis melalui kombinasi metode deret waktu (time series) dan machine learning. Model yang dihasilkan kemudian diuji melalui stress testing untuk mengukur berbagai skenario risiko sebelum diterapkan sebagai sistem pendukung keputusan dalam memprediksi kondisi ekonomi dan keuangan pada periode tertentu.
Menurut Dedy, inovasi tersebut juga dapat dikembangkan menjadi Crisis Management Protocol (CMP) yang dilengkapi Early Warning System (EWS). Sistem ini memungkinkan institusi mendeteksi potensi krisis lebih dini sehingga langkah mitigasi dapat disiapkan sebelum dampaknya meluas.
Ia mencontohkan, pada situasi seperti pandemi Covid-19, sistem tersebut dapat memberikan sinyal peringatan dini melalui berbagai skenario yang dibangun dalam model sehingga risiko dapat diantisipasi lebih cepat.
Tak hanya untuk sektor publik, pendekatan ini juga dinilai berpotensi meningkatkan kualitas pengambilan keputusan di sektor industri. Deteksi dini terhadap potensi krisis ekonomi memungkinkan penyusunan strategi mitigasi lebih awal, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dan menekan risiko bisnis melalui keputusan yang didasarkan pada data.
Ke depan, Dedy menilai pengembangan riset harus terus dilakukan agar sistem Early Warning System semakin sensitif dalam membaca perubahan kondisi. Dengan begitu, rentang waktu untuk melakukan antisipasi terhadap risiko dapat semakin panjang.
“Harapannya, penelitian ini terus berkembang sehingga metode yang dirancang semakin canggih, akurat, dan mudah diterapkan,” katanya.
Pengembangan inovasi tersebut juga mendukung komitmen ITS terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama pada aspek pendidikan berkualitas, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, serta penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri. Onny
INVESTORJATIM.COM – PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (AHI/ACES) membukukan kinerja positif sepanjang Semester I/2026. Perseroan…
INVESTORJATIM.COM — Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur menggelar Dialog Kebangsaan bertajuk Merawat Bhinneka Tunggal Ika,…
INVESTORJATIM.COM – PT PLN Nusantara Power (PLN NP) memperkuat program pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan kesiapsiagaan…
INVESTORJATIM.COM – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memulai rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru…
INVESTORJATIM.COM — Kelangkaan LPG 3 kilogram (kg) di sejumlah wilayah mendorong masyarakat Kabupaten Lumajang beralih…
INVESTORJATIM.COM — Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, Lutfil Hakim, menegaskan industri media massa…