Sekretaris Bappeda Jatim Andhika Paratama Herlambang, Ekonom DR. Miguel Angel Esquivias, Direktur Utama Konsultan Manajemen Mohamad Badowi (KMMB) Okky Widya Prananta, Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto, Wakil Ketua Kadin Surabaya Medy Pramkoso di sela acara “Inspire, Innovation Networking & Strategic Platform for Industrial Excellence” di Surabaya, Selasa (05/08/2025). Foto: Kadin Jatim
SURABAYA, Investor Jatim – Ekonomi nasional belum menunjukkan geliat signifikan di bawah kepemimpinan presiden baru. Pertumbuhan ekonomi masih stagnan di bawah angka 5 persen. Bahkan, tahun depan pertumbuhan juga diprediksi di kisaran angka yang sama.
Ironisnya, di tengah stagnasi itu, Jawa Timur justru mematok target ambisius. Tumbuh 8% pada 2029. Bukan hal mudah meskipun provinsi ini menyumbang 25,11 persen ekonomi Pulau Jawa, dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp819,30 triliun pada triwulan I/2025.
Sekretaris Bappeda Jatim, Andhika Paratama Herlambang menyorot sektor pertanian yang menyerap banyak tenaga kerja, tapi kecil kontribusinya terhadap ekonomi.
“Sektor pertanian menyerap lebih dari 10 persen tenaga kerja, tapi kontribusinya ke ekonomi masih kecil,” ungkap Andhika Paratama Herlambang forum “Inspire, Innovation Networking & Strategic Platform for Industrial Excellence” di Surabaya, Selasa (5/08/2025).
Forum yang digelar Kadin Surabaya bekerja sama dengan Kadin Jatim, Kadin Institute dan Konsultan Manajemen Mohamad Badowi (KMMB) ini juga menghadirkan ekonom DR. Miguel Angel Esquivias, Direktur Utama KMMB Okky Widya Prananta, Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto dan Wakil Ketua Kadin Surabaya Medy Pramkoso.
Parahnya lagi, lanjut Andhika, petani juga sudah terbiasa menjual hasil panen dalam bentuk mentah. Padahal, Jatim adalah lumbung pangan nasional, menjadi produsen terbesar untuk komoditas beras, jagung, susu, telur, bawang, hingga daging.
Sementara industri pengolahan hanya terpusat di kota-kota besar. Dari 38 kabupaten/kota, hanya empat daerah, Surabaya, Sidoarjo, Kediri, dan Pasuruan, yang kontribusi industrinya di atas 10 persen. Lebih dari separuh daerah menyumbang di bawah 1 persen.
“Pusat ekonomi menumpuk di segelintir titik. Ini perlu didorong lewat hilirisasi dan pemerataan industri,” tukas Andhika.
Setali tiga uang, Wakil Ketua Kadin Surabaya Medy Pramkoso juga mengungkap potensi besar Surabaya sebagai simpul logistik dan transportasi nasional. Tapi, biaya tambahan dalam proses produksi masih tinggi, menggerus daya saing perdagangan kota ini.
“Surabaya bisa jadi pusat pemulihan ekonomi nasional, asal mampu menekan biaya produksi dan mempercepat reformasi SDM,” ujarnya.
Ketua Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, menyorot pentingnya investasi dan transformasi tenaga kerja.
“Pertumbuhan ekonomi regional tak akan optimal tanpa investasi dan transformasi tenaga kerja. Apalagi saat ini, daya saing Indonesia masih kalah dibanding negara lain,” tegasnya.
Untuk itu, Kadin Jatim bersama Pemprov Jatim memiliki komitemen kuat untuk menyiapkan SDM yang berkualitas dan berdaya saing melalui pembentukan Tim TKDN di setiap kabupaten dan kota.
Namun lagi-lagi, ironisnya, dari 38 daerah di Jawa Timur, masih ada 10 yang belum memiliki TKDV, termasuk Surabaya. Padahal, kota ini diharapkan jadi lokomotif pembangunan SDM unggul dam berdaya saing.
“Pemerintah daerah harus serius mengembangkan vokasi,” tegas Adik.
Di sisi lain, ekonom DR. Miguel Angel Esquivias mengungkapkan, stagnasi terjadi di banyak sektor dalam satu tahun terakhir. ”Berbagai sektor ekonomi menunjukkan kinerja yang stagnan, mulai dari sektor property, infrastruktur hingga energi,” kata dia.
Miguel melanjutkan, satu-satunya sektor yang menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan adalah sektor teknologi, yang saat ini menjadi perhatian dan menarik banyak minat investasi.
Dia juga menyebut, ada banyak faktor yang memengaruhi stagnasi ini, salah satunya adalah gejolak ekonomi dunia yang mengakibatkan adanya perubahan kebijakan global.
“Hampir semua negara kini memiliki strategi nasional masing-masing untuk menjaga ekonomi mereka, dan hal tersebut secara tidak langsung ikut membatasi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia,” imbuhnya.
Di tengah tantangan besar itu, Miguel menawarkan serangkaian solusi strategis, di antaranya adalah integrasi regulasi pusat-daerah lewat digitalisasi, zona investasi satu pintu, dan diplomasi perdagangan global yang agresif untuk memperkuat posisi tawar Indonesia.
Walhasil, Jawa Timur tetap menjadi harapan. Namun, untuk mengejar target pertumbuhan dan mempersempit ketimpangan, provinsi ini harus berani berubah, dari hulu ke hilir, dari pusat ke daerah, dari regulasi ke implementasi. Amrozi Amenan
INVESTORJATIM.COM – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli turun langsung menyaksikan penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) XVI periode…
INVESTORJATIM.COM - Di tengah kondisi pasar otomotif nasional yang masih melandai, PT Suzuki Indomobil Sales…
INVESTORJATIM.COM – PT Merdeka Gold Resources Tbk (IDX: EMAS) kembali menebar sinyal ekspansi agresif di…
INVESTORJATIM.COM – Akses internet cepat tak lagi eksklusif bagi kota besar. Di tengah masih lebarnya…
INVESTORJATIM.COM – Di tengah tekanan industri logistik yang semakin kompetitif dan penuh ketidakpastian, isu tata…
INVESTORJATIM.COM - Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus memperkuat komitmen sosialnya dengan menggelar program…