Seiring dengan terus berkembangnya sektor properti komersial di Indonesia, para pengembang dan pemilik aset kini menghadapi tantangan yang semakin besar, tidak lagi semata terkait desain atau lokasi, melainkan bagaimana proyek dikelola di lapangan.
Rahmat Daresa Alam, Head of Project Management Colliers Indonesia mengatakan, “Saat ini, proyek tidak lagi dinilai hanya dari segi kualitas desain atau lokasi. Proyek semakin dinilai dari seberapa baik pelaksanaannya, tepat waktu, sesuai anggaran, dan dengan akuntabilitas yang jelas. Oleh sebab itu, pengembang dan pemilik aset didorong untuk mengadopsi sistem manajemen konstruksi dan manajemen proyek digital guna meningkatkan efektivitas pelaksanaan dan pengawasan proyek.”
Di tengah meningkatnya ekspektasi investor dan tuntutan tata kelola, banyak proyek konstruksi masih bergantung pada alur kerja yang terpecah, proses persetujuan berbasis dokumen fisik, serta pelaporan yang terlambat. Kondisi ini secara konsisten mencerminkan adanya hambatan dalam pelaksanaan proyek.
Dalam wawasan terbaru bertajuk Traditional to Digital Project Management: Streamlined Workflows, Real-time Monitoring, Better Outcomes, terlihat semakin lebarnya kesenjangan antara kompleksitas pengembangan properti modern dan sistem manajemen proyek yang masih didominasi proses manual. Keterlambatan dalam mendeteksi pembengkakan biaya, siklus persetujuan yang lambat, serta terbatasnya visibilitas terhadap progres di lapangan menjadi sejumlah permasalahan utama yang memengaruhi hasil proyek.
Penggunaan perangkat lunak manajemen proyek memungkinkan pemusatan dokumentasi, proses persetujuan, dan pelaporan dalam satu sistem terpadu. Hal ini memberikan visibilitas langsung terhadap anggaran, jadwal, hingga proses pengambilan keputusan. Namun demikian, teknologi bukan satu-satunya faktor penentu. Keberhasilan implementasi tetap bergantung pada kepemimpinan yang kuat, tata kelola yang jelas, serta dukungan tim manajemen proyek berpengalaman agar solusi digital dapat diadopsi secara optimal dan selaras dengan tujuan proyek.
Bagi pengembang dan pemilik aset, dampaknya melampaui sekadar efisiensi konstruksi. Proyek yang terlambat atau melampaui anggaran berpotensi menekan nilai aset jangka panjang, mengganggu strategi penyewaan, hingga menggerus kepercayaan investor. Di tengah persaingan yang semakin ketat dan regulasi yang kian kompleks, transformasi dari manajemen proyek tradisional ke digital kini bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan strategis.
Untuk memahami lebih lanjut, laporan Market Insights terbaru bertajuk Traditional to Digital Project Management: Streamlined Workflows, Real-time Monitoring, Better Outcomes dapat diunduh melalui tautan yang tersedia. (Onny)
INVESTORJATIM.COM - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (BEI: GOTO) mencatatkan tonggak penting dalam perjalanan bisnisnya…
INVESTORJATIM.COM – PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli) menggulirkan inisiatif “JEDA” (Jangan Reaktif, Evaluasi, Double-check,…
INVESTORJATIM.COM – Rasa bangga dan haru menyelimuti Ainus Salsabilla (24), wisudawan terbaik Universitas Negeri Surabaya…
INVESTORJATIM.COM – Di tengah tekanan transisi energi dan tuntutan keberlanjutan, PLN Nusantara Power (PLN NP)…
INVESTORJATIM.COM - PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) secara berkesinambungan senantiasa memperbarui semangat segenap keluarga besar…
INVESTORJATIM.COM – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) memperbarui arah strateginya dengan mengusung tagline RESILIENCE sejak…