Categories: Indeks

Buyback Topang Sentimen, IHSG Tetap Bergerak Fluktuatif

INVESTORJATIM.COM – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau mengalami volatilitas tinggi pada perdagangan Rabu (4/2/2026). Setelah dibuka di zona merah pada level 8.121, IHSG sempat berbalik menguat (rebound) ke zona hijau hingga menyentuh level 8.194, sebelum akhirnya kembali terkoreksi ke area negatif.

Tim Analis Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, memprediksi bahwa dinamika pasar modal ke depan masih akan diwarnai fluktuasi yang cukup tajam.

Tekanan Jual Asing dan Sentimen Perbankan
Tingginya volatilitas ini dipicu oleh aliran modal asing yang belum stabil. Meski pada perdagangan Selasa kemarin IHSG sempat menguat signifikan sebesar 2,5 persen, penguatan tersebut terjadi di tengah aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing.

“Aksi jual saham oleh investor asing Selasa kemarin mencapai Rp760 miliar,” ungkap Rully. Sejumlah saham perbankan big cap menjadi sasaran utama aksi jual tersebut, di antaranya:

BBCA (Bank Central Asia)

BMRI (Bank Mandiri)

BBRI (Bank Rakyat Indonesia)

Buyback Emiten Sebagai Penyelamat Domestik
Di tengah tekanan jual asing, sentimen domestik tetap terjaga berkat langkah agresif sejumlah emiten besar melakukan pembelian kembali saham (buyback). Aksi korporasi ini dinilai menjadi bantalan agar harga saham kunci tidak jatuh lebih dalam.

Beberapa nilai buyback fantastis yang tercatat antara lain:

BBCA: Rp5 triliun

ASII (Astra International) & UNTR (United Tractors): Masing-masing Rp2 triliun

BBNI (Bank Negara Indonesia): Rp1,5 triliun

Selain itu, sejumlah emiten berkapitalisasi menengah juga turut melakukan buyback dengan nilai hingga Rp500 miliar. “Namun, langkah ini belum tentu sepenuhnya mampu menetralkan tekanan jual dari investor asing,” tambah Rully.

Proyeksi Pasar dan Pengaruh Global
Secara teknikal, BNI Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak mendatar (sideways) hari ini. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny, menetapkan level support di rentang 7.900–8.000 dan resistansi di rentang 8.175–8.300.

Kondisi global turut memberikan warna pada pergerakan pasar:

Wall Street: Bursa Amerika Serikat melemah akibat rotasi investor dari sektor teknologi ke sektor yang lebih diuntungkan oleh pemulihan ekonomi.

Asia: Mayoritas bursa Asia menguat seiring stabilnya pasar komoditas emas dan perak, serta membaiknya aktivitas manufaktur di AS.

Kebijakan Moneter: Bank Sentral Australia resmi menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam dua tahun akibat pertumbuhan ekonomi yang kuat dan ancaman inflasi. (QID)

REDAKSI

Recent Posts

Swiss-Belinn Manyar Surabaya Gandeng Munca Workshop Gelar Fluffy Chunky Bag Workshop, Dorong Ekosistem Industri Kreatif

INVESTORJATIM.COM — Swiss-Belinn Manyar Surabaya memperkuat komitmennya dalam mendukung pertumbuhan komunitas dan industri kreatif melalui…

8 jam ago

Mahasiswa Teknik Elektro UM Gresik Pamerkan Inovasi AI dan IoT di ElectroTech Exhibit 2026, Siapkan Talenta Industri Digital

INVESTORJATIM.COM — Transformasi digital yang ditopang teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT)…

9 jam ago

BRANKAS DUA METER, NEGARA YANG TERBELAH

Oleh: Hadipras Ada yang luar biasa mengerikan dalam cara kita bernegara hari ini. Di tengah…

10 jam ago

Penjualan SIG Naik 4,4% hingga Mei 2026, Strategi Transformasi Bisnis Jadi Kunci Pertumbuhan

INVESTORJATIM.COM - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) mencatatkan pertumbuhan kinerja operasional sepanjang Januari-Mei 2026.…

11 jam ago

PGN Raih Penghargaan GCG Award 2026, Perkuat Tata Kelola untuk Dukung Transisi Energi Nasional

INVESTORJATIM.COM — PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) terus memperkuat implementasi tata kelola perusahaan yang…

14 jam ago

Bidik Generasi Z, Taman Budaya Jatim Hidupkan Kembali Teater Tradisi

INVESTORJATIM.COM – Gedung Cak Durasim, Surabaya, kembali menjadi panggung bagi regenerasi seni teater tradisi. Pada…

1 hari ago