Las Vegas Gadget Vaganza 2018: Menggaet Pelanggan Lewat Pameran

Managing Director Las Vegas Mobile Store, Herry Ramba (dua dari kanan), saat membuka “Las Vegas Vaganza 2018” di atrium Royal Plaza Surabaya, Senin (3/12).

SURABAYA-Gelaran pameran dipandang sebagian peritel gadget masih menjadi jurus ampuh mereka untuk menggaet pelanggan di tengah ramainya penjualan secara online akhir-akhir ini.

Pameran bukan sekedar menawarkan produk-produk baru yang dibalut dengan teknologi modern dan fitur-fitur yang menarik, tetapi sebagai ajang interaksi untuk mendekatkan diri dengan konsumen. Berbagi informasi lewat pameran juga bisa mempererat hubungan antara penjual dan pembeli.

Menempatkan diri untuk mendekatkan diri dengan konsumen melalui interaksi langsung itu menjadi pilihan Las Vegas Mobile Store untuk mengembangkan bisnis ritel smartphone kedepan dan diyakini akan membedakannya dengan peritel lain. Merayakan ulang tahunnya ke-9, Las Vegas pun menggelar pameran bertajuk ‘Las Vegas Gadget Vaganza 2018’ di atrium Royal Plaza yang berlangsung 3-8  Desember. Pameran didukung brand-brand ternama.

“Di ulang tahun ke-9 ini, Las Vegas ingin mendekatkan diri sekaligus memberikan apresiasi kepada pelanggan melalui pameran ‘Las Vegas Vaganza 2018’ ini, “ kata Herry Ramba, Managing Director Las Vegas Mobile Store sebelum pembukaan “Las Vegas Vaganza 2018”.

Herry mengatakan dari pameran seperti ini, Las Vegas bisa berinteraksi langsung dengan konsumen, mengedukasi konsumen serta memahami kebutuhan mereka. Dan, tentunya pameran ini juga diharapkan bisa mendongkrak penjualan di akhir tahun ini. “Kami menargetkan dalam seminggu, ada penjualan 2.000 unit,” ujarnya.

Selain dengan pameran, promosi juga masih menjadi andalan untuk menarik konsumen. Oleh sebab dalam tiga bulan sekali Las Vegas juga mengeglar undian untuk memperebutukan sembilan hadiah. “Dan di penghujung tahun selain sembilan hadiah plus juga hadiah utama berupa mobil yang akan diundi dalam pameran ini,” terang Herry.

Herry mengatakan jelang akhir tahun pasar tampak terlihat kurang greget, menyusul belum ada kepastian tentang rencana produk baru yang diluncurkan di tahun baru nanti. Hal itu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang selalu diwarna peluncuran produk baru pada saat tahun baru. Namun, andai saja betul nanti tidak ada produk baru yang diluncurkan, pasar smartphone tahun depan diproyeksikan masih akan bertumbuh. “Tumbuhnya di kisaran 5-10 persen terutama jelang pemilu tahun depan,” kata Herry.

Pertumbuhan itu diwarnai pergeseran konsumen untuk produk-produk kelas dibawah harga Rp 1 juta ke konsumen untuk produk dengan harga Rp 3-4 juta. Pergeseran konsumen itu sebetulnya sudah mulai terlihat tahun ini sehingga berpengaruh pada volume dan nilai penjualan smarphone tahun ini yang berbanding terbalik. Volume penjualan turun 10 persen, tapi nilai penjualan justru naik 5 persen. “Pergeseran dari middle low ke middle high ini akan lebih besar pada 2019 nant karena berbagai kemudahan yang dimiliki konsumen untuk mendapatkan produk-produk yang masuk kategori middle high, seperti kemudahan pembayaran dengan kartu kredit yang banyak ditawarkan oleh vendor bekerjasama dengan perbankan atau perusahaan leasing,” sebut Herry.

Kemudahan pembayaran melalui kartu kredit itu sekarang ini menjadi tren di kalangan konsumen. Hal itu terlihat dari pembayaran dengan kartu kredit yang terus meningkat. Saat ini pembayaran dengan kartu kredit mencapai 65 persen dan 35 persen untuk pembayatan dengan cash. Hal ini tentu saja berbanding terbailik dengan tahun sebelumnya, dimana cash bisa mencapai 70 persen dan pembayaran dengan kartu kredit 30 persen.

Pola pembelian konsumen smartphone sekarang juga lebih cenderung mengarah pada pembelian secara online dengan memanfaatkan media sosial atau marpketplace yang tersedia sekarang. Pola perubahan konsumen itu tentu saja mendorong peritel melakukan perubahan pola pemasaran dari pola tradisional sebelumnya ke trend centre agar bisa mengimbangi perubahan pola konsumen terutama dari kaum milenial sebagai konsumen potensial. “Mau tak mau kita sebagai peritel sekarang juga gencar memasarkan produk melalui media sosial seperti Facebook, WhatApss dan Instagram. Kita ajak 4.000 follower kita untuk sharing program. Sedikit lebih berbeda akan lebih baik daripada kita sedikit memberikan lebih baik,” ujar Herry.

Dengan mengikuti perubahan pola konsumen serta prinsip tadi, Herry cukup yakin bisa menjaga penjualannya tetap tumbuh tahun depan yang kami prediksi pertumbuhan di kisaran 5-10 persen,” terang Herry.

Saat ini, Las Vegas sudah memiliki empat jaringan tokok di kota Surabaya. Dua jaringan lainnya ada di kota Manado. Tahun 2019, Herry menyebutkan, pihaknya berencana menambah jaringan toko di Gresik.(RD)